SketsaNusantara.id - Nasi Padang, salah satu hidangan khas Indonesia yang telah mendunia, menyimpan sejarah yang menarik dan penuh warna, berawal dari masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Sejarah ini dimulai ketika Belanda membangun jalur transportasi strategis untuk mempermudah perdagangan antara Jakarta dan Bukittinggi.
Pada saat itu, Padang dipilih sebagai pusat administrasi di Sumatera Barat, menjadikannya titik penghubung vital antara hasil bumi daerah tersebut dan pasar internasional.
Baca Juga: Tercantum di Serat Centhini, Ini Sejarah Serabi Solo, Kuliner Khas dengan Cita Rasa Gurih Manis
Untuk mendukung perjalanan panjang dari Bukittinggi ke Padang yang memakan waktu dan melelahkan, Belanda mendirikan enam pos peristirahatan di sepanjang jalur tersebut.
Di setiap pos, mereka mendirikan rumah makan yang menyajikan berbagai hidangan untuk para pelancong, terutama bangsawan yang sering melakukan perjalanan tersebut.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube yoatoon, restoran-restoran ini awalnya dikenal dengan nama dalam bahasa Belanda, "Padangsche Restaurant," yang mengacu pada lokasi mereka di Padang dan menu yang mereka tawarkan.
Seiring waktu, nama "Padangsche Restaurant" disingkat menjadi "Nasi Padang," dan istilah ini mulai merujuk pada makanan khas Minangkabau yang disajikan di restoran-restoran tersebut.
Dengan cepat, "Nasi Padang" menjadi istilah umum yang dikenal luas di seluruh Indonesia.
Namun, ada satu hal menarik yang sering mengundang rasa penasaran.
Meskipun Nasi Padang sangat terkenal di seluruh dunia, di kota asalnya, Padang, ternyata tidak ada "Nasi Padang".
Di Padang, restoran-restoran lebih memilih nama lokal yang mencerminkan kekayaan budaya kuliner Minangkabau, seperti Salero Bundo, Restu Ibu, dan Nasi Uni Dewi.