Di sinilah yang kemudian menimbulkan desas desus karena ada hal yang di luar kebiasaan budaya Keraton dimana seharusnya suksesor penggantian Sultan seharusnya dilakukan saat Sultan sudah wafat.
Namun saat itu suksesi perubahan dari Sultan ke VII ke VIII dilakukan sebelum Sultan Hamengkubuwono ke VII masih hidup.
Sehingga timbul pertanyaan jika Sultan Hamengkubuwono VII pindah ke Pesanggrahan Ambarukmo dengan damai mengapa ada desas desus satu kutukan yang ia ucapkan.
Dimana kutukan itu berbunyi bahwa tak akan pernah ada raja yang meninggal di Kraton setelahnya (Hamengkubuwono VII).
Dan rupanya apa yang dikatakan Sri Sultan Hamengkubuwono VII benar adanya dimana penggantinya kemudian yakni Sri Sultan Hamengkubuwono VIII disebut wafat di dalam kereta ketika dalam perjalanan di Kulonprogo sepulang dari menjemput putra penggantinya yakni Gusti Raden Mas Dorojatun yang baru pulang dari Belanda.
Tidak berhenti disitu saja, penerusnya yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX wafat di Amerika Serikat pada tahun 1988.
Untuk itu hingga saat ini desas-desus kutukan Sri Sultan Hamengkubuwono VII tetap hidup di masyarakat yang menimbulkan pertanyaan mengapa ia sampai melayangkan kutukan tersebut.***