SketsaNusantara.id - Indonesia dan Malaysia, dua negara serumpun dengan kedekatan budaya dan geografis, pernah mengalami ketegangan mendalam dalam sejarah mereka.
Momen krusial dalam hubungan kedua negara ini terjadi antara 1962 hingga 1966, dalam konflik yang dikenal sebagai konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Sejarah konflik ini berawal dari pembentukan Federasi Malaysia pada tahun 1961 yang menggabungkan Malaya, Brunei, Sabah (Borneo Utara), dan Sarawak.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube INVOICE INDONESIA, presiden Indonesia saat itu Soekarno, menolak keras pembentukan federasi ini, menganggapnya sebagai strategi kolonial Inggris yang mengancam kemerdekaan Indonesia.
Filipina juga menolak federasi tersebut, mengklaim Sabah sebagai wilayah Kesultanan Sulu.
Ketegangan semakin memuncak ketika Malaysia secara resmi dibentuk pada 16 September 1963.
Baca Juga: Tragedi Bultiken 1964: Sejarah Berdarah Kesultanan Bulungan, Dalangnya dari Tentara Nasional?
Brunei memilih untuk tidak bergabung, sementara Singapura keluar dari federasi.
Pemberontakan di Brunei pada 8 Desember 1962 melibatkan Tentara Nasional Kalimantan Utara (CNKO) dan mendapat bantuan dari Inggris untuk mengatasi situasi tersebut.
Sebagai respon, Soekarno meluncurkan kebijakan "Ganyang Malaysia" pada 27 Juli 1963.
Pada Mei 1964, pasukan Indonesia mulai melancarkan serangan di Semenanjung Malaya.