SketsaNusantara.id - Panembahan Girilaya, salah satu raja Cirebon, dimakamkan di Astana Girilaya yang bersebelahan dengan pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Makam ini dibangun pada masa Sultan Agung, sekitar tahun 1628-1829, dan terletak di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, sekitar 17 kilometer di selatan Keraton Yogyakarta.
Makam Panembahan Girilaya, yang diresmikan pada 1 Februari 1788, terbagi menjadi tiga area yang masing-masing dikelilingi oleh pagar tembok bata.
Kompleks pemakaman ini kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, termasuk Cirebon, yang ingin mengenang sang raja.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun TikTok @snym_indonesia, kisah Panembahan Girilaya dimulai ketika ia diundang oleh mertuanya, Raja Mataram.
Undangan tersebut ia hadiri bersama kedua putranya, Syamsudin Martawijaya (Sultan Sepuh) dan Kartawijaya Badridin (Sultan Anom I).
Namun, mereka ditahan di Mataram dan tidak diizinkan kembali ke Cirebon selama 12 tahun.
Panembahan Girilaya akhirnya wafat pada tahun 1662 dan dimakamkan di Astana Girilaya.
Pada tahun 1677, ketika Mataram diserang oleh Trunojoyo dari Madura dan Kareng Galesong, putra Sultan Hasanuddin dari Makassar, kedua putra mahkota Cirebon diselamatkan oleh Trunojoyo.
Serangan tersebut memaksa Amangkurat I melarikan diri dari Yogyakarta dan wafat di Tegalwangi, kemudian dikenal sebagai Sunan Tegalwangi.