jelajah

Di Mana Ujung Selokan Mataram Yogyakarta? Panjangnya 30 Kilometer, Penyelamat dari Kerja Paksa Jepang

Senin, 5 Agustus 2024 | 08:30 WIB
Selokan Mataram saksi bisu penjajahan Jepang di Yogyakarta. (X/ @olasiahaan.)

Baca Juga: KH Abdul Ghofur Lamongan: Bukti Nyata Pondok Wali Songo Kini Hadir dengan Fasilitas Lengkap, Sudah Berusia 600 Tahun?

Air dari selokan ini juga menyirami sawah di Kabupaten Bantul dan sekitarnya, serta melintasi kawasan kampus Universitas Gadjah Mada di Buluksumur.

Selokan Mataram pernah jadi saksi bisu sejarah panjang.

Selain itu, Selokan Mataram mini dijadikan sebagai cagar budaya Kota Yogyakarta.

Selokan ini tidak lepas dari peran Sultan Hamengkubuwono IX, Raja Keraton Yogyakarta yang mulai memerintah pada 18 Maret 1940.

Baca Juga: Mengenal Kisah Aki Tirem yang Dianggap Sebagai Pemimpin Tertua Tanah Sunda, Ternyata Bukan Penduduk Asli Nusantara?

Pada tahun 1942, Sultan merasa resah dengan kedatangan Jepang yang memberlakukan kerja paksa atau romusha.

Sebagai upaya melindungi rakyatnya, sultan mengusulkan proyek pembangunan Selokan Mataram, mengerahkan ribuan warga untuk bekerja.

Konsep irigasi di Yogyakarta sebenarnya sudah ada sejak tahun 1588 dalam bentuk parit pertahanan.

Inspirasi Sultan HB IX berasal dari Sunan Kalijaga, yang meramalkan bahwa Yogyakarta akan makmur jika aliran Sungai Progo dan Opak bersatu.

Baca Juga: Sering Terngiang di Bumi Yogyakarta, Sudah Tau Makna Gelar Mangkubumi? Disematkan dalam Diri Sosok Ini

Bahkan, Raja Joyoboyo dari Kerajaan Kediri (1135-1159) pernah meramalkan bahwa penyatuan dua sungai di tanah Mataram akan membawa kemakmuran.

Selokan Mataram dibangun di tengah kekeringan yang melanda Yogyakarta, saat rakyat hanya bisa makan gaplek dan menanam singkong.

Melalui proyek irigasi ini, Sultan HB IX tidak hanya membangun infrastruktur vital, tetapi juga menyelamatkan rakyatnya dari kerja paksa Jepang.

Selokan Mataram kini berdiri sebagai simbol ketahanan, kebijaksanaan, dan kemakmuran bagi Yogyakarta.***

Halaman:

Tags

Terkini