Sebagai guru utama Sultan Agung, Ki Ageng Jejer memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran dan spiritualitas Sultan.
Ia memegang sanad ilmu kejadugan (karomahan) dan kadigdayaan, sehingga mendapat gelar Sunan Suraprabhawa.
Gelar "Sunan" diberikan kepada mereka yang telah menguasai lima tingkat wahyu (derajat maqom) melalui disiplin tirakat yang ketat.
Di antaranya adalah Wahyu Prajangka, Wahyu Panyokro, Wahyu Panyondro, Wahyu Saudarsono, dan Wahyu Pangangen-angen.
Ki Ageng Jejer mendirikan padepokan bercorak Giri yang mengajarkan pendidikan untuk "mandhito nggayuh ilmu dunyo pepadang."
Baca Juga: Beredar Narasi GP Ansor Didirikan Habib dan Syarifah, Bukan Cuma Sejarah NU yang Dibelokkan?
Di padepokan ini, ia menggabungkan ilmu Sunan Tembayat dan Sunan Kalijaga dengan prinsip disiplin ilmu Sunan Giri.
Pendidikan ini melahirkan tokoh besar seperti Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang menjadi raja sekaligus peletak dasar kebudayaan dan standar hidup Jawa pada masanya.
Peran Mbah Jejer dalam sejarah dan spiritualitas Jawa sangat besar.
Ia tidak hanya dikenal sebagai guru, tetapi juga sebagai penjaga tradisi keilmuan yang terus menginspirasi generasi penerus.
Kisah dan ajarannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat, memberikan warisan ilmu dan kebijaksanaan yang abadi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI