jelajah

Profil Kyai Ali Maksum, Terkenal Karena 4 Hal Ini: Kemampuannya Tidak Dimiliki oleh Ulama Lain

Jumat, 2 Agustus 2024 | 10:30 WIB
Profil ulama besar Indonesia, Kyai Ali Maksum. (X @islamidotco)

 

SketsaNusantara.id - KH Ali Maksum, atau yang akrab dipanggil Wak Ali, adalah sosok ulama besar yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam pendidikan Islam di Indonesia.

Lahir pada 2 Maret 1915 di Desa Soditan, Lasem, Kabupaten Rembang.

Beliau adalah putra pertama dari pasangan KH Maksum bin KH Ahmad Abdul Karim salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Ny Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem.

Baca Juga: Yuk Ziarah Religi ke Makam Kyai Hamid Pasuruan Jawa Timur, Sosok Ulama Besar Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah yang Penuh Karomah

Seperti dikutip SketsaNusantara.id dari laman nu.or.id, setelah kembali dari Makkah pada tahun 1941, beliau mendalami ilmu tafsir dari guru-gurunya, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki al-Hasani dan Syekh Umar Hamdan.

Sepeninggal KHM Munawwir pada tahun 1942, KH Ali Maksum bersama saudara iparnya, KHR Abdul Qadir Al-Munawwir dan KHR Abdullah Afandi Munawwir, dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang gigih membesarkan Pesantren Krapyak.

Perjuangan mereka tidak mudah. Di tengah masa pendudukan Jepang hingga revolusi kemerdekaan, KH Ali Maksum tetap teguh memperkuat pesantren dan mengembangkan NU di Yogyakarta dan sekitarnya.

Baca Juga: Ada Pasar di Dalam Area Pemakaman Sunan Drajat Lamongan, Ternyata Ini Peraturan yang Harus Ditaati saat Berkunjung ke Sana...

Setelah tahun 1955, beliau fokus membangun generasi muda, masyarakat pinggiran, akademisi, dan politisi yang simpati pada ulama, pesantren, dan NU.

Sebagai penjaga persatuan NU dan umat Islam, terutama pada masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, Kiai Ali menjadi pencetus dan pengawal Khitah NU 1926.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga NU dari kepentingan politik praktis.

Baca Juga: 3 Fakta Istimewa Terkait Pertimbangan Soekarno Memilih 17 Agustus 1945 Sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, Nomor 2 Jadi Landasan yang Paling Mendasar

Selama menjabat sebagai Rais Aam PBNU (1981-1984), beliau memelopori tradisi modernisasi ulama, pesantren, dan NU dalam membangun karakter umat Islam dan bangsa Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini