SketsaNusantara.id- Pulau Tidung, bagian dari Kepulauan Seribu, menyimpan sejarah yang jarang diketahui dan berkaitan dengan perlawanan terhadap Belanda.
Sejak awal 1800-an, Pulau Tidung ini mulai dihuni oleh segelintir penduduk.
Terdiri dari dua pulau utama, Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil, yang awalnya dihuni adalah Tidung Kecil sebelum penduduk bermigrasi ke Tidung Besar.
Penduduk Pulau Tidung berasal dari berbagai suku, seperti Bugis, Mandar, Kalimantan, Sumatera, Sumbawa, dan Banten, dengan mayoritas menganut agama Islam.
Pada masa itu, letusan dahsyat Gunung Krakatau juga terjadi, menambahkan babak dramatis dalam sejarah pulau ini.
Sebelum Indonesia merdeka, Pulau Tidung dipimpin oleh seorang bek atau lurah pertama yang dikenal sebagai Bapak Ahmad Mundari.
Kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada laut, dengan mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Pada masa penjajahan Belanda, pulau ini dikenal sebagai Pulau Air Besar dan menjadi tempat pengasingan bagi para pembangkang.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Nurul AlFiqih, salah satu tokoh yang diasingkan ke Pulau Tidung adalah Raja Pandita, atau Raja Tidung, dari Kalimantan Utara.
Meskipun disebut sebagai kerajaan, Tidung Kuno diperkirakan bukanlah monarki dalam arti tradisional.
Raja lebih mirip kepala suku atau pemimpin komunitas yang kekuasaannya meluas ke suku-suku di luar Tidung, memungkinkan pemindahan pemerintahan lebih mudah.
Raja Pandita dikenal sebagai sosok yang keras menentang Belanda, yang membuatnya diasingkan pada tahun 1892.