Nyai Pandansari mengajak Ki Ageng Dapuraja untuk membuat saluran air yang diambil dari Sendang Sebrayut, namun suaminya itu menolak karena tidak sanggup.
Akhirnya, Nyai Pandansari sendiri yang membuat saluran airnya dengan cara menggeret stagen atau bengkung dan atas izin Allah SWT, air bisa mengalir mengikuti arah stagen atau bengkung yang ditarik sampai rumahnya.
Hal itu juga yang membuat Nyai Pandansari juga dikenal dengan nama Nyai Dapu dan sampai sekarang saluran air tersebut dinamakan Sedapu yang masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk keperluan hariannya serta pertanian.
Ada juga tempat lainnya yang memiliki sumber mata air panas dan dingin, dimana saat ini dikenal dengan nama Pasinan atau Masinan.
Konon katanya, sumber mata air tersebut berasal dari kisah Ki Ageng Dapuraja yang pergi berpamitan ke suatu daerah pada Nyai Pandansari dengan perasaan yang terlalu bersemangat hingga tidak mendengarkan nasehat istrinya.
Air panas di situ melambangkan perasaan suami yang begitu semangat untuk pergi, sedangkan air dinginnya menyimbolkan perasaan seorang istri yang ditinggalkan sang suami dengan tetap sabar dan tidak emosi.
Pada akhir hayatnya, Nyai Pandansari tinggal dan dimakamkan di daerah Sedapu, Desa Boja dan biasanya setiap bulan Syawal atau Syawalan, masyarakat akan beramai-ramai berziarah ke makamnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI