Selama dua tahun di Lisboa Portugal, ia mengantongi informasi berharga tentang keberadaan Nusantara.
Hingga pada tahun 1954, Cornelis de Houtman bersatu dengan seluruh pedagang Belanda dan membuat serikat perdagangan.
Nama serikat perdagangan tersebut adalah Compagnie van verre te Amsterdam (perusahaan jarak Jauh) yang berpusat di Amsterdam.
Singkat cerita, pada 27 Juni 1596 rombongan armada Cornelis de Houtman tiba di pulau Banten, ia berhasil menemukan pulau surga yang dimaksud oleh para pelaut waktu itu.
Namun, keberhasilannya ini membuka jalan bagi ekspedisi-ekspedisi selanjutnya yang berujung pada praktik kolonialisme di Nusantara.
Merujuk pada laman bakai.uma.ac.id, kedatangan rombongan Cornelis sekitar 249 orang warga asing di Banten, awalnya disambut dengan begitu baik oleh otoritas setempat.
Namun, perangai buruk dari beberapa pedagang seperti keluar masuk kota seenaknya, menimbulkan berbagai masalah hingga beberapa petugas keamanan Kesultanan Banten melakukan penangkapan.
Salah seorang yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara pada waktu itu adalah Frederick de Houtman yang merupakan kakak Cornelis.
Selain itu, rombongan dagang Belanda lain dan juga Cornelis de Houtman terpaksa digiring keluar dan diusir dari tanah Banten.
Dikatakan, Belanda semakin tertarik untuk mendapatkan sumber daya alam yang ada di Nusantara.
Mereka datang kembali ke Indonesia bukan maksud untuk berdagang melainkan menjajah dan mendirikan kolonialisme.
Seperti informasi sebelumnya, Cornelis de Houtman meninggal dunia dalam perang di Aceh melawan Laksamana Malahayati pada 1 September 1599.