Masyarakat Jawa percaya bahwa Pangeran Diponegoro adalah sosok ratu adil yang akan segera membawa kemakmuran dan keadilan bagi masyarakat di tanah Jawa.
Sentot Prawirodirjo berperan sangat aktif dalam peperangan tersebut dan juga terkenal akan keberaniannya menyerang musuh secara langsung tanpa takut bahaya apapun.
Selain itu, ia juga dikenal memiliki otak yang cerdik dalam mengatur siasat dan strategi perang yang mampu membuat Belanda kesusahan.
Bahkan kehebatan yang dimiliki sentot dinilai mimpi buruk bagi Belanda dan kehebatannya juga ditulis dalam buku "De Java Oorlog Van 1825-1830" karya E.S. Klerek pada tahun 1905.
Tetapi pada tahun 1829, Sentot Prawirodirjo berhasil ditangkap Belanda dan dikirim ke pengasingan di Sumatera serta dipaksa untuk membantu pemberontakan dalam Perang Padri.
Sampai pada akhirnya, Sentot Prawirodirjo wafat di usianya yang ke-48 tahun pada masa pembuangannya oleh Belanda di Bengkulu.
Lokasi makamnya berada di ketinggian 38 meter di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.***