SketsaNusantara.id - Sentot Prawirodirjo dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan penuh keberanian, serta sangat setia kepada Pangeran Diponegoro.
Sentot Prawirodirjo lahir di Madiun pada tahun 1807 dengan Ayahnya bernama Ronggo prawirodirjo yang merupakan seorang Bupati Madiun yang gugur saat bertempur melawan Belanda pada tahun 1810.
Sementara itu, Ibu Sentot Prawirodirjo bernama Nyi Mas Ajeng Genosari dimana ia adalah seorang "Garwa Paminggir" atau selir.
Baca Juga: Keris Kyai Nogo Siluman Pangeran Diponegoro Kembali ke Indonesia: Sejarah yang Pulang ke Rumah
Nama Sentot sendiri ternyata adalah nama samaran atau julukan saat perang dari kata "Mak Sentot" yang artinya terbang atau melesat.
Sentot Prawirodirjo diketahui mempunyai hubungan kekerabatan dengan Pangeran Diponegoro karena kakak perempuannya yaitu Raden Ayu Maduretno menikah dengan pangeran tersebut.
Dilansir SketsaNusantara.id dari youtube Mahardika Channel, Sentot sudah mulai ikut bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang disebut dengan "Pasukan Pinilih" ketika usianya baru menginjak 17 tahun.
Baca Juga: 3 Keistimewaan Nyi Mas Gandasari, Benarkah Selain Berparas Cantik Tubuhnya Juga Harum?
Ia terpilih menjadi panglima perang karena keahliannya dalam menunggang kuda dan juga memimpin pasukan.
Sentot diberi gelar oleh Pangeran Diponegoro yakni "Ali Basha" yang terinspirasi dari nama panglima perang dari Turki.
Sentot Prawirodirjo menjadi panglima yang paling handal dan pemberani pada Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825 sampai 1830.
Penyebab dari meletusnya perang tersebut adalah rasa tidak puas dari masyarakat Jawa atas pendudukan Belanda yang sudah hampir merampas seluruh hak dan harta milik mereka.
Pangeran Diponegoro sebagai putra sulung Sultan Hamengkubuwono III bertindak sebagai pemimpin perlawanan yang mendapat dukungan dari semua kalangan mulai dari bangsawan, ulama, hingga rakyat kecil.