Kemungkinan pembangunan pagar keliling tersebut dimulai pada masa pemerintahan Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, yang kemudian disempurnakan pada tahun 1931.
Makam Astana Srandil diketahui dibangun pada abad ke-19. Meskipun nampak masih muda, makam-makam di sana masih memiliki ciri khas sebagai makam Islam Nusantara.
Ciri tersendiri yakni adanya pengaruh budaya asli bangsa Indonesia budaya Hindu maupun Jawa yang ada pada arsitektur makam di Pasarean Srandil.
Baca Juga: Di Mana Lokasi Makam Mbah Shiddiq? Salah Satu Objek Wisata Religi Jember yang Dipadati Peziarah
Di sana, terdapat Kori Agung yaitu gapura yang berpintu dan beratap sebagai pintu gerbang tempat keluar masuk makam dari halaman pertama menuju halaman kedua dan ketiga.
Gapura atau Kori Agung tersebut adalah peninggalan budaya agama Hindu dengan fungsi sebagai pintu gerbang bangunan candi.
Kori Agung pada Pasarean Srandil memiliki atap berbentuk "limasan" adalah bukti adanya pengaruh budaya lokal (budaya Jawa), karena "limasan" itu sendiri merupakan ciri khas bangunan rumah Jawa selain joglo dan serotong.***