Ia memerintah selama 22 tahun hingga akhirnya menyerahkan tahta pada putranya, Hayam Wuruk.
Ratu kedua yakni Kusumawardhani, anak Hayam Wuruk dari Paduka Sori.
Awalnya, singgasana Majapahit diberikan kepada suami Kusumawardhani, Wikramawardhana yang masih keponakan Hayam Wuruk.
Hal ini dilakukan untuk mencegah perselisihan antara Kusumawardhani dengan anak laki-laki Hayam Wuruk, Bhre Wirabhumi yang lahir dari selir hingga tak memiliki hak atas tahta Majapahit.
Namun setelah sang suami mundur dari tahta dan memilih menjadi petama, Kusumawardhani yang ditunjuk sebagai pemegang tahta selanjutnya.
Masa kepemimpinan Kusumawardhani cukup singkat, hanya 3 tahun saja.
Dan terakhir, adalah Dewi Suhita yang memimpin selama 18 tahun.
Ada beberapa versi terkait asal usul Dewi Suhita, ada yang menyebutnya sebagai putri Bhre Wirabhumi, cucu Bhre Wirabhumi dan putri Wikramawardhana dari selirnya.
Baca Juga: Bukan Hanya Nyi Roro Kidul, Indonesia Ternyata Punya 7 Ratu Penguasa Alam Gaib yang Sakti!
Namun yang paling banyak tercantum dalam buku-buku sejarah, Dewi Suhita adalah anak Wikramawardhana dengan Kusumawardhani.
Dari ketiga ratu yang memimpin Majapahit, sosok Dewi Kencana Wungu sering dikaitkan dengan sosok Kusumawardhani atau Suhita seperti dikutip dari buku karya Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, terbitan LKis Yogyakarta (2005).
Dalam buku tersebut, disebutkan juga bahwa roman Damar Wulan-Minak Jinggo yang melibatkan Ratu kencana Wungu, lahir dari Perang Paregreg yang begitu melekat bagi orang Jawa.