SketsaNusantara.id - Pada awal abad ke-20, murid Syekh Kholil Bangkalan membawa dampak besar dalam pembentukan dua organisasi Islam utama di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Keempat murid ini, setelah menerima pendidikan mendalam dari Syekh Kholil Bangkalan, menyebar ke berbagai daerah untuk menyebarluaskan ilmu dan mengembangkan pesantren serta organisasi mereka.
SketsaNusantara.id melansir dari kanal YouTube PENA santri, dua dari murid-murid tersebut berangkat ke Jombang, sebuah daerah yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam di Jawa Timur.
Di Jombang, Kyai Haji Hasyim Asy'ari, salah satu murid yang paling menonjol, mendirikan Pesantren Tebuireng.
Di pesantren ini, beliau memulai pengajaran kitab Shahih al-Bukhari, sebuah karya penting dalam literatur hadis.
Pesantren Tebuireng di bawah kepemimpinan Kyai Haji Hasyim Asy'ari segera menjadi pusat pendidikan agama yang sangat berpengaruh dan menarik santri dari seluruh Nusantara.
Di samping itu, Kyai Haji Romli, murid lainnya, mendirikan pesantren di Rejoso, yang dikenal dengan ajaran tarekat al-Mu'tabarah.
Kedua pesantren ini berperan penting dalam pengembangan pendidikan agama di Indonesia.
Sementara itu, dua murid Syekh Kholil Bangkalan lainnya melanjutkan perjalanan mereka ke Semarang.
Di sini, Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Kyai Haji Darwis, yang kemudian dikenal sebagai Ahmad Dahlan, mengaji di Pondok Pesantren Kiai Shaleh Darat.