Sebagai bekas Ibukota Kerajaan Mataram Islam yang sudah berdiri pada tahun 1532 Masehi, Kotagede menyisakan berbagai peninggalan arkeologi dengan makna yang mendalam.
Perdagangan dan kerajinan menjadi sektor utama yang paling menonjol di kawasan itu dari masa kerajaan, penjajahan, bahkan sampai sekarang.
Salah satu kerajinan populer di Kotagede adalah kerajinan perak yang diperkirakan sudah ada sejak ada sejak abad ke-16 dan 17.
Mayoritas yang bekerja sebagai pengrajin perak adalah kalangan abdi dalem dimana hasilnya berupa perhiasan dan alat rumah tangga yamg dibutuhkan di keraton.
Selain kerajinan peraknya, ada hal unik lain yang ada di Kotagede yaitu Rumah Kalang yang memiliki perpaduan antara gaya arsitektur Jawa pada denah tata ruang dan gaya Indisch pada corak ornamennya.
Ciri khas pada Rumah Kalang ini diantaranya adalah tiang dengan gaya Chrintia-Romawi dengan hiasan kaca patri yang berwarna-warni, banyak memakai tegel bermotif besar, serta ada Bunker atau ruang bawa tanah.
Sementara itu untuk unsur tradisional Jawanya tampak di susunan bilik dengan memakai prinsip 3 senthong, gandhok gadri, dapur, kamar mandi, dan sumur.
Menurut mitos yang beredar di masyarakat, Wong Kalang atau orang Kalang dilarang membangun rumah yang sama dengan orang Jawa di Kotagede.
Hal tersebut karena orang Jawa berpandangan bahwa Wong Kalang itu lebih rendah dari mereka karena didasarkan pada asal-usulnya.
Tetapi karena keadaan ekonomi Wong Kalang yang mumpuni membuat mereka mampu membangun rumah Kalang yang mewah dengan arsitektur Indisch dengan kombinasi arsitektur bangsawan Jawa.
Perlu diketahui bahwa pada masa itu orang Jawa tidak terlalu kaya hingga bisa membuat rumah mewah seperti itu, sehingga yang bisa membangun Rumah Kalang itu adalah bentuk lambang kebanggan dari pemiliknya.***