SketsaNusantara.id - Dawet tak cuma minuman segar berbahan
campuran gula jawa, santen dan cendol.
Dalam budaya Jawa, minuman dawet dijadikan simbol penuh makna dalam perayaan upacara adat pernikahan.
Namanya Dodol Dawet yang dalam bahasa jawa berarti jualan
dawet.
Dalam tradisi pernikahan Jawa, Dodol Dawet, orang tua pengantin wanita 'pura-pura' berjualan dawet kepada pembeli (tamu undangan).
Ibu mempelai bertugas sebagai penjual yang melayani pembelian dawet, sementara sang ayah menerima uang dari pembeli.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman Badan Bahasa Kemendikbud, transaksi jual beli ini tidak menggunakan uang, tapi memakai kereweng sebagai alat tukar.
Kereweng merupakan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat. biasanya pecahan genteng atau kuali.
Namun, tidak semua upacara pernikahan memakai adat ini. Dodol dawet hanya sebagai pelengkap pernikahan.
Meski hanya sebagai pelengkap, namun makna yang terkandung di dalamnya sangat mendalam.
Seperti bentuk dawet yang lencir bulat melambangkan kebulatan hari dari kedua orang tua untuk menikahkan anaknya.
Sedangkan kereweng yang dipakai untuk membeli dawet jadi simbol bahwa manusia dimulai dari bumi (tanah liat) dan mendapat penghidupan dari bumi pula.