SketsaNusantara.id - Reog Ponorogo adalah salah satu bukti budaya sebagai salah satu tradisi yang bertujuan untuk mempertahankan silaturahmi bagi masyarakat luas.
Kesenian Reog Ponorogo ini sudah muncul sejak zaman penjajahan, namun dianggap sebagai kesenian yang merugikan sampai dilarang untuk dipentaskan.
Reog Ponorogo mengandung berbagai unsur budaya, baik dari segi historis, religius, kreatif dan edukatif yang bikin banyak masyarakat merasa terhibur hingga dikenal sampai saat ini.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Gromoro Studio Series, inilah kisah asal usul Reog Ponorogo yang menjadi kesenian daerah versi cerita rakyat.
Cerita kisah dari Reog bermula dengan keengganan Putri Songgo Langit yang cantik jelita untuk menikah hingga membuat ayahnya Raja Kediri merasa khawatir.
Hingga Putri Songgo Langit mengajukan sebuah syarat hasil dari Tapa Brata, yaitu harus menghadirkan sebuah pertunjukan yang belum pernah ada dan barisan kuda kembar sebanyak 144 ekor dan harus ada hewan berkepala dua.
Kemudian terjadilah sayembara, hingga tinggal 2 orang Raja yang ingin mengikuti yaitu Raja Singo Barong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Klono Sewandana dari Kerajaan Bantarangin dari daerah Wengker.
Raja Singo Barong adalah manusia berbentuk setengah harimau dan tubuhnya penuh kutu hingga harus memelihara burung merak yang merupakan sosok yang kejam dan jahat.
Pada suatu hari Singo Barong ingin berbuat curang hingga niatnya diketahui oleh Raja Klono Sewandono hingga Dia memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Lodaya.
Alhasil penyerbuan ini tidak diketahui oleh Raja Singo Barong hingga membuat Raja Klono Sewandono bisa menyusup ke lokasi istana, sampai kemudian terlihatlah Raja Singo Barong yang dihinggapi burung merak yang membuat mereka mirip seperti hewan berkepala dua.
Kemudian Raja Klono Sewandono menyatukan kedua hewan ini sebagai syarat pernikahan dari Dewi Songgo Langit dengan pusaka Cemeti bernama Pecut Samandiman andalannya.
Setelah itu Raja Klono Sewandono menuju Kerajaan Kediri dan menampilkan pertunjukkan kesenian baru berupa barisan 144 ekor kuda kembar dalam iringan gamelan, terompet, dan gendang juga tarian Singo Barong di depannya.