Atas kemenangannya itu, Raja Mataram memberikan hadiah berupa gajah dan penggembalanya yang beragama Islam.
Namun sumber lain menyebutkan, lahirnya suku Nyama Selam bermula dari pengawal Raja Klungkung yang merupakan pedagang muslim yang menetap di Majapahit.
Suku Nyama Selam juga terdiri dari suku Bugis yang konon menepi saat hendak menuju Jawa-Madura.
Sebagian dari mereka ada yang menetap di Desa Pegayaman hingga terjadilah akulturasi sosial antara Muslim, Bali dan Bugis.
Salah satu keunikan Suku Nyama Selam di Desa Pegayaman yakni tradisi Bali yang masih dianut.
Walau beragama Islam, suku Nyama Selam di Desa Pegayaman menggunakan sistem penamaan berdasarkan urutan kelahiran seperti masyarakat Bali.
Anak pertama diberi nama depan Wayan, sedangkan anak kedua, Nengah, anak ketiga Nyoman dan anak keempat, Ketut.
Suku Nyama Selam Pegayaman juga menggunakan nama depan tersebut.
Baca Juga: 9 Suku Tertua di Indonesia, Bahkan Salah Satunya Ada yang Sudah Tinggal Sejak Satu Juta Tahun Lalu?
Sistem penamaan tersebut dikombinasikan dengan nama-nama Islami.
Beberapa contoh nama Suku Nyama Selam di Desa Pegayaman yakni Wayan Aisyah, Nengah Mumfaat, Nyoman Amrillah Riduan dan Ketut Maulidin.
Selain itu, percampuran suku Bali, Bugis dan muslim yang menjadikan karakter suku Nyama Selam cukup unik.
Karakter umum suku Jawa yang lembut dan sopan, lalu Bali dengan adat dan rangkaian upacaranya serta suku Bugis yang dikenal dengan karakter kerasnya, semua dapat ditemukan pada diri sebagian besar orang Nyama Selam di Pegayaman.***