Hal itu yang kemudian membuatnya diizinkan mengubah namanya sunggak semi dengan sang ayah menjadi Kyai Zakaria II.
Baca Juga: Jadi Kuliner Khas Muntilan, Konon Makanan Ini Jadi Sarapan Pangeran Diponegoro
Selain mengikuti jejak sang ayah, Eyang Djoego juga turut serta dalam Perang Diponegoro.
Bahkan banyak sumber yang menyebutkan ia adalah penasehat spiritual Pangeran Diponegoro.
Namun sejak Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado oleh Belanda, Eyang Djoego akhirnya mengembara.
Eyang Djoego mengembara sampai ke Blitar dan mengubah namanya hingga meninggalkan segala atribut kebangsawanannya.
Hal ini dikarenakan untuk menghindari Belanda yang saat itu menangkap para pengikut Pangeran Diponegoro.
Eyang Djoego memiliki karomah yakni bisa menyembuhkan orang sakit.
Dari kisah tutur yang beredar di masyarakat, Eyang Djoego bahkan bisa mengusir wabah yang kala itu menyerang Blitar.
Hingga Kanjeng Pangeran Warsokoesoemo memberikannya sebidang tanah yang kini dikenal sebagai Desa Jugo.
Eyang Djoego pun mendirikan padepokan yang ia gunakan untuk berdakwah.
Eyang Djoego meninggal di padepokannya pada Malam Senin Pahing sekitar pukul 01.30 WIB.
Dan sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di lereng Gunung Kawi, Malang.***