Ia kemudian menghimpun kekuatan dari laskar Jawa-Tionghoa yang bernama Brigade Jawa bersama dengan Laskar Tionghoa yang hendak menuntut balas akibat pembantaian yang terjadi di Batavia pada tahun 1740.
Laskar Jawa-Tionghoa tersebut kemudian bergerak bersama memberontak pada Pakubuwana II.
Sampai akhirnya Raden Mas Garendi berhasil menguasai benteng Kertasura.
Berkat jasa-jasanya, pada 1 Juli 1742, Raden Mas Garendi diangkat sebagai Amangkurat V, kemudian juga diangkat sebagai Sunan oleh koalisi Jawa-Tionghoa bergelar Soen An Inga atau Sunan Kuning.
Namun kekuasaan Sunan Kuning hanya bertahan sekitar 6 bulan dan akhirnya terdesak keluar dan akhirnya ia ditangkap VOC dan dibuang ke Srilanka hingga wafat.
Keberadaan makam Sunan Kuning di Semarang ini masih menjadi perdebatan, namun meski masih diperdebatkan masyarakat percaya bahwa makam tersebut merupakan makan Sunan Kuning dan diziarahi hingga saat ini.
Di samping makam Sunan Kuning, terdapat makam Sunan Kalijaga, Sunan Ambarawa dan disana juga ada makam Mbah Jabat dan Mbah Jimat.***