Istilah-istilah seperti 'Taya' dan 'Tol' yang berarti kekuatan adikodrati telah lama dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dan Bali.
Dengan demikian, tidak mengherankan jika Islam dengan mudah berkembang dan menjadi agama mayoritas di Nusantara.
Kesamaan dalam prinsip ketuhanan antara ajaran Kapitayan dan Islam membuat transisi kepercayaan ini berjalan alami, memperkuat keyakinan bahwa Islam memang membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk Nusantara.
Kemudian Ustadz Zainal Abidin dalam kanal YouTube Ghoinfa TV juga memberikan pendapatnya tentang agama yang satu ini.
Ia menjelaskan bahwa dalam kepercayaan Kapitayan, sesajen dianggap sebagai cara untuk menyenangkan Tuhan.
Sesajen tersebut biasanya berupa tumpeng dan berbagai makanan lain yang disediakan dalam upacara-upacara tertentu.
Masyarakat percaya bahwa sesajen dapat menghubungkan mereka dengan Tuhan dan mendapatkan berkah.
Raja dan ratu dalam kepercayaan Kapitayan dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Apa pun yang dikatakan raja atau ratu dianggap sebagai suara Tuhan.
Gelar seperti "Ratu" dan "Datu" diberikan kepada orang-orang yang dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan.
Bukti-bukti keberadaan Kapitayan dapat dilihat di berbagai peninggalan budaya Nusantara.
Misalnya, banyak kuburan kuno yang di sampingnya terdapat kolam kecil atau "Setu" yang diyakini sebagai tempat minum roh leluhur.
Selain itu, bentuk-bentuk bangunan seperti candi dan masjid di Jawa sering kali mencerminkan simbol-simbol Kapitayan.