Dikisahkan bila saat sedang serius menenun dan sedang menjaga anak-anaknya, Nyai Bagelen mengira sedang menyusui anaknya namun yang disusui adalah seekor anak sapi sehingga hal ini membuat Nyai Ageng Bagelen malu dan marah.
Suatu ketika Nyai Ageng Bagelen melihat kedua putrinya meninggal di lumbung padi kedelai hitam, setelah itu rumah tangga Nyai Agung Bagelen dengan Awu-awu Langit diwarnai pertengkaran.
Kemudian Nyai Ageng Bagelen berpesan anak keturunannya agar tidak memelihara sapi, tidak boleh melaksanakan hajat pada hari pasaran selasa wage karena hari itu menjadi hari naas, menanam kedelai hitam, serta memakai pakaian lurik. Setelah menyampaikan pesan itu, Nyai Ageng Bagelen masuk kamar dan moksa.***