Lalu, kapan namanya berubah menjadi Pasar Beringharjo?
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Yogyakarta Tempo Doeloe (2000) karya Arwan Tuti Artha, nama tersebut muncul setelah Sri Sultan HB IX naik tahta pada tahun 1940.
Penguasa baru tersebut menerapkan kebijakan penggunaan nama-nama Jawa bagi semua instansinya di bawah pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.
Nama Beringharjo digunakan karena pasar tersebut didirikan di atas bekas lahan hutan Beringan, Desa Pacetokan.
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa nama itu merujuk pada kondisi tanahnya. "Ber" diambil dari dari "jember" alias basah atau lembab.
Suku kata "ring" berarti "garing" atau "kering", sedangkan "harjo" artinya "indah dan bersih".
Jadi, arti dari "Beringharjo" adalah pasar yang dulunya bertanah basah atau lembab, lalu menjadi kering dan akhirnya bersih serta indah.***