Di masa Hindia Belanda, pasar ini mengalami pembangunan yang diharapkan lebih representatif sebagai pusat jual beli kebutuhan warga Yogyakarta.
Dari tahun 1920 hingga 1925 pengerjaan los-los pasar dilakukan untuk mewujudkan bangunan pasar yang cukup megah.
Tahun 1926, tepatnya bulan Maret, proyek pembangunan pasar itu selesai dengan area seluas 2,5 hektar.
Kini, Pasar Beringharjo semakin beradaptasi dengan perubahan zaman.
Bangunan-bangunan megah di sepanjang Kota Yogyakarta, merambat dan menembus jantung Malioboro.
Seolah tak mau mengalah dengan modernisasi, atmosifir kearifan lokal masih menyambut hangat setiap pengunjung di sepanjang Jalan Malioboro.***