Bagi mereka yang vegetarian, dengan kandungan tersebut, tempe bisa dijadikan makanan pengganti daging.
Tak itu saja, bila ditilik dari proses produksinya, tempe juga dinilai ldebih ramah lingkungan ketimbang daging.
Kandungan probiotik yang berada di dalam tempe, bisa dikatakan cenderung mengungguli susu. Sehingga, tempe bisa dikonsumsi siapa saja, termasuk balita dan anak-anak yang karena alasan tertentu tidak boleh mengkonsumsi susu.
Harga tempe yang jauh lebih murah dibandingkan susu juga membuat makanan tradisional ini terjangkau seluruh lapisan masyarakat
Sejarah Tempe pada Jawa Kuno
Menariknya lagi, tempe diyakini merupakan makanan tradisional khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman Jawa Kuno.
Sejak beratus tahun yang lalu, tempe sudah banyak dikenal oleh masyarakat Jawa, utamanya di Yogyakarta dan Surakarta.
Hal ini jelas tertulis dalam Serat Centhini, yang merupakan karya sastra 12 jilid dan diedit pada 1815.
Serat Centhini mengisahkan pengembaraan dari tiga anak Sunan Giri Prapen, setelah meninggalkan Giri, Gresik, Jawa Timur.
Berdasarkan tulisan di dalam serat Centhini, bisa disimpulkan bahwa masyarakat Jawa pada abad ke-16 telah mengenal tempe.
Tempe disebutkan sebagai hidangan bernama jae santen tempe (masakan tempe dengan olahan santan dan bumbu jahe) dan kadhele tempe srundengan (olahan tempe ditaburi olahan parutan kelapa).
Kata “tempe” diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Era masyarakat Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi.