Konsep tersebut ternyata bermakna dalam, karena setiap jamaah yang mau masuk harus merendahkan tubuhnya.
Artinya, setiap orang yang akan masuk ke masjid harus merendahkan diri saat memasuki rumah Tuhan.
Orang yang masuk ke dalam rumah Tuhan harus menanggalkan setiap keangkuhan yang melekat karena semuanya sama di hadapan Sang Pencipta.
Masjid ini juga dibangun berpatokan pada Masjid Agung Demak, termasuk pada gaya arsitektur yang menerapkan akulturasi budaya.
Lokasinya pun ditempatkan di antara alun-alun dan bangunan keraton, demi menyatukan antara rakyat, ulama, dan pemimpin.***