SketsaNusantara.id - Dakwah Islam di Nusantara diterapkan dengan cara-cara damai dan penuh toleransi, salah satu buktinya adalah gaya arsitektur bangunan masjid-masjid tua yang masih terawat dengan baik hingga zaman sekarang.
Gaya arsitektur masjid-masjid tua di bumi Nusantara juga mencerminkan akulturasi antara Islam dan budaya lokal, sekaligus menciptakan daya tarik bagi masyarakat.
Dari sekian banyak peninggalan dakwah Islam di Nusantara terutama masa Wali Songo, Masjid Agung Demak merupakan bangunan yang sangat ikonik.
Wujud bangunannya sangat khas, sepintas langsung mengingatkan pada bentuk-bentuk rumah tradisional di Jawa.
Bagian yang paling mencolok tentu saja lapisan 3 atap berundak yang mengerucut ke atas.
Dibandingkan dengan gaya arsitektur kebanyakan masjid di Timur Tengah tentu sangat mencolok perbedaannya.
Jika masjid-masjid di Timur Tengah beratapkan kubah, masjid agung tertua peninggalan kerajaan Islam di Nusantara ini didesain dengan gaya kearifan lokal.
Menariknya, ada makna penting dari wujud dan jumlah atap berundak pada Masjid Agung Demak ini.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Karakteristik & Mitos Masjid Agung Peninggalan Kerajaan Islam di Jawa karya Fairuz Sabiq (2021), 3 atap itu merepresentasikan 3 tingkatan penting seorang muslim.
Tiga tingkatan tersebut adalah Iman, Islam, dan Ihsan.
Iman adalah pondasi keyakinan seorang muslim yang mengharap jalan kebenaran dan rahmat dari Allah SWT.