Kehidupan masyarakat saat itu dikendalikan oleh para pendeta, guru ajar, biksu, wiko,dan empu yang dianggap memiliki kemampuan mistik dan karismatik saat itu.
Kehadiran Wali Songo kemudian mengambil alih peranan tersebut dalam konteks penyebaran agama Islam.
Unsur mistik religius tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari metode dakwah para wali, kehadiran Wali Songo juga sekaligus menandakan suatu akhir dari dominasi Hindu Budha dalam budaya Nusantara khususnya Jawa.
Baca Juga: Kena Prank Mertua, Kisah Ki Ageng Mangir, Keturunan Raja Majapahit yang Dibunuh Saudarai Sendiri
Dibandingkan dengan kebudayaan Islam, dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Ampel diantaranya bertujuan membangun kembali tatanan sosial yang saat itu telah melenceng dari nilai-nilai kebaikan kemanusiaan dan nilai-nilai agama.
Sunan Ampel merasa gelisah melihat berbagai fenomena sosial yang bertentangan dengan akal sehat norma sosial, penyakit sosial yang jelas terlihat saat itu adalah berjudi, minum-minuman keras, mencuri, konsumsi narkotika, dan berzina.
Dalam pandangan Sunan Ampel lima hal tersebut merupakan penyakit sosial yang menyebabkan hancurnya tatanan sosial.
Terinspirasi dari lima penyakit sosial itulah Sunan Ampel menanamkan lima pondasi sederhana yang dikenal dengan Moh Limo.***