Ternyata bendera Kyai Tunggul Wulung diyakini terbuat dari kain yang digantung di seputar makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.
Sedangkan di ujung bendera Kyai Tunggul Wulung, terdapat sebuah tombak pusaka bernama Kyai Slamet.
Dikisahkan bahwa Sang Sultan akhirnya menyetujui permintaan warga. Namun, Kyai Tunggul Wulung hanya diarak di seputaran Yogyakarta, bukan di Kota Gede.
Sebelumnya, Kyai Tunggul Wulung juga pernah diarak keliling Yogyakarta saat wabah influenza menyerang pada tahun 1918.
Baca Juga: Pernah Menjadi yang Paling Berpengaruh di Asia! Inilah Sejarah Kejatuhan Kerajaan Majapahit
Pada tahun 1892 dan 1876 Kyai Tunggul Wulung juga pernah diarak keliling kota, saat wabah menyerang Kota Yogyakarta.
Masyarakat umum meyakini bahwa berhentinya wabah tidak lepas dari kesaktian Kyai Tunggul Wulung yang diarak keliling kota.
Peristiwa Kyai Tunggul Wulung diarak tersebut terlaksana pada tanggal 21 sampai dengan 22 Januari 1932, bertepatan dengan hari Jumat Kliwon yang dipandang baik dari sisi supranatural.
Ritual diaraknya Kyai Tunggul Wulung dilengkapi dengan sesaji dan diringi dengan dikumandangkannya adzan yang menandai keluarnya pusaka tersebut dari keraton.
Tak ketinggalan ayat suci al quran dan berbagai doa keselamatan dilantunkan mengiringi diaraknya Kyai Tunggul Wulung.
Ribuan warga Yogyakarta berkumpul di sepanjang jalan untuk menyaksikan arak-arakan Kyai Tunggul Wulung tersebut.
Sejumlah literatur juga mencatat bahwa arak-arakan Kyai Tunggul Wulung diikuti dengan penyembelihan kerbau bule atau albino berjenis kelamin betina.