Apalagi daging kambing untuk Sate Klathak tidak diboleh dicuci karena bisa mempengaruhi rasa dan teksturnya.
Begitu juga soal bumbu, berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan kecap, Sate Klathak hanya dilumuri garam sebelum dibakar.
Proses pembuatan Sate Klathak ini mengajarkan nilai dan makna tentang kebersihan, ketelitian hingga kesederhanaan.
Sate Klathak merupakan salah satu makanan yang dimasak dengan cara sederhana namun tetap lezat hingga menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.
Lantas kenapa disebut ‘Klathak’? Eits, itu bukan nama daerah atau nama penemu sate ini ya.
Ada beberapa versi tentang penamaan Sate Klathak.
Pertama, Klathak berasal dari kata melinjo, lantaran saat pertama berjualan Sate Klathak, Mbah Ambyah menjajakan jualannya di bawah pohon ini.
Kedua, klathak berasal dari bunyi-bunyian yang muncul saat sate dibakar, perpaduan antara bara api, besi dan garam yang dilumuri pada daging kambing.
Nah, jadi itulah kisah lahirnya Sate Klathak, salah satu makanan khas Bantul, Yogyakarta.***