jelajah

Di Balik Kesunyian Giriloyo, Ada Jejak Abdi Dalem Keraton, Batik Tulis Kelas Dunia, dan Kuliner Khas yang Menggoda

Kamis, 4 Juni 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi batik di Yogyakarta. (Pexels/Jauhar Musthofal Qulub )

SketsaNusantara.id - Di tengah perbukitan Imogiri yang tenang, terdapat sebuah kampung yang menyimpan warisan budaya berusia ratusan tahun.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta, namun suasananya berbeda jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Kampung tersebut adalah Giriloyo, sebuah dusun yang berada di kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini dikenal karena letaknya yang berada di kaki perbukitan tempat kompleks makam raja-raja Mataram Islam berada.

Baca Juga: KUR BRI Antar Batik New Colet Jombang Tembus Pasar Nasional

Meski hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat pemerintahan Yogyakarta, Giriloyo tetap mempertahankan nuansa pedesaan yang kuat. Suasana tenang, udara sejuk, dan lingkungan yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Namun bukan hanya panorama alam yang membuat Giriloyo dikenal luas. Kampung ini juga memiliki dua kekayaan budaya yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu batik tulis dan pengobatan tradisional gurah.

Gurah merupakan salah satu metode pengobatan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat. Praktik ini memanfaatkan bahan alami dari akar tanaman tertentu yang digunakan untuk membantu membersihkan saluran pernapasan.

Baca Juga: Makna Tersembunyi Batik Kawung yang Dipakai Tokoh Semar, Filosofinya Ternyata Berkaitan dengan Pengendalian Diri

Selain gurah, nama Giriloyo lebih banyak dikenal sebagai sentra batik tulis di Yogyakarta. Kampung ini menjadi salah satu lokasi yang masih mempertahankan proses pembuatan batik secara tradisional dari generasi ke generasi.

Sejarah batik di Giriloyo diperkirakan telah dimulai sejak abad ke-17. Pada masa itu, banyak warga setempat berstatus sebagai abdi dalem yang bertugas merawat kompleks makam raja-raja Mataram di kawasan Imogiri.

Interaksi yang terjalin antara masyarakat dan lingkungan keraton kemudian melahirkan tradisi membatik. Sejumlah kerabat keraton memberikan pekerjaan kepada warga sekitar, terutama perempuan, untuk mengerjakan proses membatik menggunakan canting.

Dalam perjalanan panjangnya, masyarakat Giriloyo selama bertahun-tahun lebih banyak berperan sebagai pembatik yang menghasilkan kain setengah jadi. Hasil pekerjaan mereka kemudian dipasarkan oleh para pengusaha batik yang berada di kawasan sekitar Keraton Yogyakarta.

Tradisi tersebut berlangsung selama beberapa generasi. Keahlian membatik diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka sehingga keterampilan itu tetap bertahan hingga sekarang.

Perubahan besar terjadi setelah gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006. Musibah tersebut menjadi titik awal kebangkitan baru bagi para perajin batik di Giriloyo.

Halaman:

Tags

Terkini