SketsaNusantara.id - Bagi masyarakat Indonesia, Lebaran kurang lengkap rasanya jika tanpa opor ayam yang disajikan dengan ketupat atau nasi.
Opor ayam kini seolah menjadi makanan wajib yang harus ada di meja makan mayarakat nusantara saat Idul Fitri.
Namun, tahukah Anda bahwa hidangan opor ayam ini bukan sekadar resep turun-temurun, tapi juga simbol keberagaman budaya?
Hal itu diungkap oleh Sejarawan Kuliner, Fadly Rahman, penulis buku Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial (1870-1942).
Dalam bukunya, Fadly Rahman menyebutkan bahwa opor adalah hasil "perkawinan" berbagai budaya dunia.
Menurutnya, opor ayam masuk ke Indonesia merupakan hasil dari akulturasi atau penyatuan budaya Indonesia dengan budaya asing, khususnya pengaruh Arab dan India yakni perpaduan antara kari dan gulai.
Opor masuk ke Indonesia sekitar abad ke 15-16 sebelum masehi, di mana para pedagang 2 negara tersebut masuk ke wilayah pesisir yakni Jawa, Sumatera dan Selat Malaka.
Kari dari India di mana opor memiliki kemiripan dasar dengan kari, terutama dalam penggunaan rempah dan tekstur kuah yang kental.
Sedangkan gulai dari Arab, masuknya pengaruh Islam ke Nusantara membawa tradisi mengolah daging dengan kuah bumbu yang pekat, yang kemudian beradaptasi dengan lidah lokal.
Meskipun terinspirasi dari luar, opor dalam perkembangannya mengalami proses "pribumisasi".
Menurut Fadly Rahman, opor adalah bukti betapa inklusifnya kuliner Nusantara. Ia menyerap pengaruh asing, namun tetap mempertahankan jati diri lokal melalui bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita.