SketsaNusantara.id - Sejauh ini Bali memanglah sangat terkenal dengan keragaman budaya, adat dan tradisi yang cukup kental, bahkan masih terus dilestarikan hingga saat ini.
Meski zaman sudah modern, tak pernah ada satupun tradisi di Bali yang terlewatkan. Salah satunya yakni tradisi menusuk tubuh menggunakan keris, yang disebut sebagai tradisi Ngurek.
Tentu tradisi Ngurek ini tergolong cukup ekstrem. Bagaimana tidak, setiap orang yang mengikuti upacara Ngurek tersebut harus menusuk tubuhnya.
Meski tidak semua daerah di Bali yang melakukan tradisi ini, tapi terdapat beberapa daerah yang masih mewajibkannya.
Hal ini bertujuan sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Sesuai dengan makna dan tujuan utama tradisi Ngurek yakni meyakinkan manusia tentang Tuhan yang Maha Esa.
Seluruh peserta yang ikut melakukan tradisi Ngurek ini merupakan orang-orang yang yakin dan meminta pertolongan agar dilindungi hanya kepada Sang Kuasa.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman budaya-indonesia.org, Tradisi Ngurek berasal dari kata Urek yang berarti melobangi atau menusuk.
Tradisi menusuk tubuh dengan keris ini juga kerap dikenal dengan sebutan Ngunying. Yang mana tradisi Ngurek pada dasarnya mirip dengan Debus (tradisi Suku Baduy di Banten).
Kedua tradisi ini sama-sama mengandalkan kekuatan dan kekebalan tubuh. Biasanya dengan syarat orang tersebut tidak boleh ujub atau sombong.
Pada saat melaksanakan tradisi Ngurek, orang yang menusuk tubuhnya dengan keris ternyata tidak akan merasakan sakit. Hal ini dikarenakan adanya bantuan ghoib, sehingga seluruh peserta dalam keadaan dirasuki roh lain atau kerasukan.
Alat yang digunakan untuk menusuk tubuh dalam tradisi Ngurek di Bali tidak hanya menggunakan keris, tapi juga bisa dengan tombak ataupun alat sejenis lainnya.