jelajah

Mengapa Pocong, Wewe, hingga Jin Muslim Mengakar di Jawa? Beginilah Jejak Panjang Pengaruh Champa dalam Islam Nusantara

Sabtu, 17 Januari 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi, kenapa ada banyak hantu di Jawa? (Pexels/Camilla Heed)

Dalam tahap berikutnya, institusi keraton berperan penting. Kekuasaan Islam di pedalaman mengorganisasi penyebaran tradisi.

Melalui keraton, kepercayaan gaib dilembagakan dalam budaya. Tradisi itu kemudian diwariskan lintas generasi.

Pengaruh Champa tidak hanya tampak dalam kepercayaan. Ia juga hadir dalam kebiasaan bahasa sehari-hari.

Panggilan kepada ibu berubah menjadi “mak”. Sebutan ini menggantikan istilah Majapahit seperti “ina” dan “ra-ina”.

Di pesisir utara Jawa, sebutan “mak” masih digunakan hingga kini. Wilayah ini terkait tokoh-tokoh penting Islam Jawa.

Kebiasaan memanggil kakak dengan “kak” atau “kang” juga berkembang. Sebutan lama “raka” mulai ditinggalkan.

Begitu pula panggilan adik berubah menjadi “adi”. Sebutan “rayi” semakin jarang digunakan.

Perubahan bahasa ini berjalan seiring penyebaran Islam ke pedalaman. Jejak Champa pun menetap dalam keseharian masyarakat Jawa.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini