SketsaNusantara.id - Masuknya Islam ke Nusantara tidak berlangsung dalam ruang kosong budaya. Proses itu berjalan bersamaan dengan pertukaran kepercayaan dan tradisi lama.
Di Jawa, pengaruh Islam dari Champa tidak hanya hadir dalam ajaran agama. Pengaruh tersebut juga membawa sistem kepercayaan terhadap makhluk gaib dan takhayul.
Kepercayaan ini kemudian hidup berdampingan dengan tradisi lokal. Proses asimilasi berlangsung perlahan dan terorganisir.
Berbeda dengan masa Majapahit, makhluk halus sebelumnya dipandang setengah dewa. Konsep itu memiliki hierarki kosmologis yang jelas.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Atlas Walisongo yang ditulis KH Agus Sunyoto, Sedyawati mencatat jenis makhluk halus Majapahit mencakup “yaksha, raksasa, pisaca, pretasura, gandharwa, bhuta, khinnara, widhyadara, mahakala, nandiswara, caturasra, rahyangta rumuhun, sirangbasa ring wanua, sang mangdyan kahyangan, sang magawai kedhaton”.
Ketika pengaruh Champa masuk, terjadi pergeseran persepsi. Makhluk halus tidak lagi ditempatkan sebagai entitas setengah dewa.
Kepercayaan masyarakat muslim Nusantara mengenal jenis makhluk lain. Daftarnya menunjukkan pengaruh Islam yang kuat.
Jenis makhluk halus itu meliputi “pocongan, jin muslim, jim, setan, gendruwo, wewe, kuntilanak, kemamang, tuyul, kalap, siluman, hantu penunggu pohon, dan arwah penasaran”.
Kepercayaan tersebut menyebar bersamaan dengan praktik takhayul khas Champa. Masyarakat mulai mempercayai tanda-tanda gaib dalam kehidupan sehari-hari.
Di antaranya adalah hitungan suara tokek dan larangan tertentu. Termasuk tabu mengambil padi pada malam hari.
Kepercayaan terhadap kesurupan dan ilmu hitam juga berkembang. Praktik sihir menjadi bagian dari narasi budaya.
Awalnya, asimilasi berlangsung di komunitas pesisir dan pesantren. Lingkungan ini menjadi ruang awal penyebaran nilai baru.