jelajah

Jejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari Pendidikan Eropa, Tahta Yogyakarta, hingga Pengabdian Total untuk Indonesia

Kamis, 1 Januari 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi Keraton Yogyakarta. (Pexels/Maxime LEVREL)

SketsaNusantara.id - Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia modern.

Perannya melampaui batas sebagai raja Yogyakarta. Kiprahnya tercatat sejak masa kolonial hingga perjalanan panjang Republik Indonesia.

Beliau lahir dengan nama Gusti Raden Mas Dorojatun pada 12 April 1912. Ia merupakan putra kesembilan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Ibundanya adalah Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit.

Baca Juga: Lahir 1880, Naik Tahta 1921: Kisah GPH Puruboyo Menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VIII setelah Serangkaian Tragedi Keluarga

Masa kecil GRM Dorojatun dijalani jauh dari lingkungan keraton. Sejak usia empat tahun, beliau dititipkan kepada keluarga Belanda. Keluarga tersebut dipimpin Mulder, kepala sekolah NHJJS.

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII berpesan agar putranya dididik seperti rakyat biasa. GRM Dorojatun hidup tanpa pengasuh pribadi. Di keluarga Mulder, ia dipanggil dengan nama Henkie.

Dilansir dari Kratonjogja.id, pendidikan awal beliau ditempuh di Yogyakarta. Sekolah yang dijalani antara lain Frobel School dan Neutrale Europese Lagere School. Setelah itu, ia melanjutkan ke Hogere Burgerschool di Semarang dan Bandung.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Muhammadiyah Lahir di Era Sultan Jogja yang Kaya Raya, Inilah Jejak Raja Jawa yang Menghubungkan Keraton hingga Gerakan Modern

Sebelum pendidikan HBS selesai, beliau dikirim ke Belanda. Di sana, GRM Dorojatun menyelesaikan pendidikan Gymnasium. Ia kemudian melanjutkan studi hukum tata negara di Universitas Leiden.

Selama di Belanda, beliau aktif mengikuti klub debat. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Profesor Schrieke. Pada masa itu pula, ia menjalin persahabatan dengan Putri Juliana.

Situasi politik dunia berubah cepat menjelang Perang Dunia II. Tahun 1939, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memanggil putranya pulang. Kepulangan itu dilakukan meski pendidikan belum selesai.

Setibanya di Yogyakarta, GRM Dorojatun menerima Keris Kyai Joko Piturun. Keris tersebut merupakan simbol calon penerus tahta. Beberapa hari kemudian, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat.

Proses menuju penobatan tidak berlangsung mudah. GRM Dorojatun harus berunding dengan pemerintah kolonial Belanda. Perundingan itu melibatkan Dr. Lucien Adam.

Perdebatan berlangsung selama berbulan-bulan. GRM Dorojatun menolak sejumlah ketentuan kolonial. Ia menolak campur tangan Belanda dalam urusan internal keraton.

Halaman:

Tags

Terkini