Setelah empat bulan, kesepakatan akhirnya ditandatangani. Pada 12 Maret 1940, kontrak politik disahkan di Tratag Prabayeksa. Kontrak tersebut terdiri dari 59 pasal.
Pada 18 Maret 1940, beliau resmi dinobatkan sebagai Sultan. Gelar yang disandang adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan, “Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX segera mengambil sikap. Dua hari kemudian, beliau mengirim telegram dukungan. Pada 5 September 1945, Yogyakarta dinyatakan bergabung dengan Republik.
Yogyakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia. Selama masa itu, kebutuhan negara ditopang oleh kas keraton. Dukungan tersebut mencakup operasional pemerintahan dan pertahanan.
Dalam perjalanan berikutnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat berbagai posisi negara. Ia pernah menjadi Menteri Negara, Menteri Pertahanan, hingga Wakil Perdana Menteri. Tahun 1973, beliau dilantik sebagai Wakil Presiden RI.
Selain politik, peran beliau juga terlihat di bidang kepanduan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengakuan dunia ditandai dengan penghargaan Bronze Wolf.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat pada 2 Oktober 1988 di Amerika Serikat. Beliau dimakamkan di Imogiri. Pada 30 Juli 1990, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Warisan beliau masih dirasakan hingga kini. Selokan Mataram menjadi salah satu peninggalan monumental. Di bidang pendidikan, beliau berperan dalam pendirian Universitas Gadjah Mada.
Di bidang seni, beliau menciptakan tari Golek Menak. Karya tersebut memperkaya khazanah budaya Yogyakarta. Jejak pengabdian Sri Sultan Hamengku Buwono IX tercatat dalam sejarah bangsa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Heboh Kabar Raffi Ahmad Bakal Jadi Menpora, Netizen Kembali Ungkit Kasus Sultan Andara Tahun 2013: Pernah Tersandung...
Langka dan Bersejarah! Begini Awal Mula Bebek Suwar Suwir, Hidangan Favorit Sultan Hamengku Buwono IX
Raja Yogyakarta yang Tak Pernah Tunduk pada Kolonialisme Barat, Inilah Riwayat Sri Sultan Hamengku Buwono II
2 Kali Dilantik Jadi Raja, Inilah Kisah Pahit Sri Sultan Hamengku Buwono III di Tengah Perebutan Jawa
Jadi Raja saat Masih Berusia 3 Tahun, Begini Cara Sri Sultan Hamengku Buwono V Menyelamatkan Yogyakarta Tanpa Pertumpahan Darah