jelajah

Lahir 1880, Naik Tahta 1921: Kisah GPH Puruboyo Menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VIII setelah Serangkaian Tragedi Keluarga

Senin, 15 Desember 2025 | 19:00 WIB
Ilustrasi, kisah tahta putra mahkota di Kasultanan Yogyakarta. (Pexels/Yazid N )

Di lingkungan keluarga, beliau mengambil langkah tidak lazim. Anak-anaknya tidak selalu dibesarkan di dalam keraton. BRM Dorodjatun dititipkan pada keluarga Belanda sejak usia empat tahun.

Langkah tersebut berlandaskan prinsip hidup yang diyakininya. Ungkapan yang menjadi pegangan adalah, “wong sing kalingan suka, ilang prayitane”.

Pada 1939, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memanggil BRM Dorodjatun dari Belanda. Di Batavia, beliau menyerahkan pusaka Kyai Joko Piturun. Penyerahan itu menandai penunjukan penerus tahta.

Tak lama setelah kembali ke Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat. Ia meninggal pada 22 Oktober 1939 di Rumah Sakit Panti Rapih. Jenazahnya dimakamkan di Astana Saptarengga, Imogiri.

Warisan pemerintahannya masih terasa hingga kini. Perombakan fisik kraton berlangsung pada era tersebut. Di bidang seni, banyak tari klasik gaya Yogyakarta diciptakan dan dibakukan. Masa itu juga dikenal sebagai puncak kejayaan wayang wong.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini