jelajah

Mengapa Aceh Darussalam Mengalami Kemunduran? Fakta Sejarah yang Terungkap dari Konflik Internal hingga Campur Tangan Bangsa Eropa

Senin, 17 November 2025 | 21:30 WIB
Illustrasi fakta sejarah kemunduran Kerajaan Aceh Darussalam. (Pexels/Danang Yordi)

SketsaNusantara.id - Aceh Darussalam dikenal sebagai salah satu kerajaan besar di Nusantara pada abad ke-17.

Puncak kejayaannya berada pada masa Sultan Iskandar Muda. Periode tersebut membawa Aceh mencapai pengaruh yang kuat di wilayah barat Nusantara.

Namun riwayat Aceh berubah setelah kepemimpinan beralih kepada sultan berikutnya.

Baca Juga: Benarkah Kerajaan Aceh Pernah Hampir Runtuh? Ada Pemberontakan hingga Bangkitnya Kembali Kekuasaan

Sesudah Sultan Iskandar Muda wafat pada 1636, tahtanya diteruskan oleh menantunya. Sultan Iskandar Tsani memimpin kerajaan selama lima tahun.

Pada masa pemerintahannya, sikap terhadap bangsa asing berubah cukup jauh dibandingkan sebelumnya. Ia bersikap lunak dalam menghadapi Belanda, Inggris, dan Portugis.

Dikutip dari buku Kerajan Islam Nusantara Abad XVI dan XVII, sumber sejarah menyebut, “Ia sangat lunak dan kompromistis, baik terhadap Belanda, Inggris ataupun Portugis.” Sikap itu berbeda dengan pendahulunya yang ketat dalam membatasi pengaruh luar.

Baca Juga: 8 Kuliner Khas Aceh yang Menggugah Selera, Kaya akan Rempah-Rempah Indonesia, Cita Rasa Asli Kota Serambi Makkah

Setelah kerajaan berada di bawah Sultan Iskandar Tsani, tanda melemahnya kekuasaan mulai tampak. Campur tangan pedagang luar negeri mulai masuk karena kebijakan yang lebih longgar.

Situasi ini semakin terasa setelah sang sultan mangkat dan digantikan Sultanah Tajul Alam Syafiatuddin Syah. Ia memerintah dari 1641 hingga 1675. Pada masa itu, kemampuan kerajaan mengelola wilayah mulai menurun. Sejumlah daerah pilihan melepaskan diri dari kendali Aceh dan membentuk kekuasaan sendiri.

Keadaan ekonomi kerajaan juga turut mengalami tekanan. Pedagang asing semakin berpengaruh dan mulai menjalankan strategi yang memecah kekuatan lokal. Saat itu, situasi dalam negeri menghadapi persoalan ekonomi yang cukup berat.

Para pemilik modal yang berpengaruh dalam kerajaan tidak lagi memperhatikan kondisi negara. Mereka lebih memusatkan perhatian pada penguasaan harta.

Dalam menghadapi situasi yang memburuk, Sultanah Tajul Alam menjalin hubungan kerja sama dengan Belanda. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga keamanan Aceh dari kemungkinan serangan luar yang semakin kuat.

Namun keberadaan Belanda menjadi peluang bagi mereka untuk memperluas kekuasaan. Sumber mencatat, “Belanda mendirikan kantor Dagang mereka di Padang dan Salida.” Pemberian fasilitas di wilayah itu membuat pengaruh Belanda semakin besar.

Halaman:

Tags

Terkini