SketsaNusantara.id - Aceh pernah berada pada masa ketika banyak orang memandangnya dengan rasa hormat.
Periode itu dikenal sebagai masa keemasan Aceh Darussalam. Masa tersebut muncul setelah perjalanan panjang kerajaan ini menghadapi berbagai tantangan politik, ekonomi, dan persaingan regional. Kejayaan itu menjadi bagian penting dari sejarah Nusantara.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI dan XV II, puncak masa emas Aceh terjadi pada era Sultan Iskandar Muda yang memimpin antara tahun 1607 hingga 1638.
Baca Juga: Benarkah Kerajaan Aceh Pernah Hampir Runtuh? Ada Pemberontakan hingga Bangkitnya Kembali Kekuasaan
Pada masa itu, Aceh kembali memulihkan daerah yang pernah melepaskan diri akibat konflik pewaris takhta pada akhir abad ke-16.
Pemulihan tersebut juga dipengaruhi serangan Portugis di kawasan Malaka. Kembalinya pengaruh Aceh menjadi salah satu tanda meningkatnya dinamika kerajaan ini.
Tampilnya Iskandar Muda menandai perubahan besar. Ia memperketat akses pedagang asing untuk memasuki Aceh. Ia juga membatasi izin untuk beberapa negara Eropa.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa kebijakan itu membuat Aceh lebih selektif kepada pihak luar. Kebijakan ini berlangsung beberapa tahun dan menunjukkan sikap tegas kerajaan dalam menghadapi persaingan dagang.
Iskandar Muda tidak hanya mengatur perdagangan. Ia juga melakukan perbaikan di berbagai sektor. Pemerintahannya menyatukan kelompok masyarakat yang beragam. Kelompok-kelompok ini terdiri dari berbagai latar belakang dan budaya.
Penyatuan itu menunjukkan adanya konsolidasi sosial yang kuat pada masa kepemimpinannya. Pada era itu pula tersusun aturan dasar pemerintahan bernama Adat Makuta Alam. Aturan tersebut disusun dengan dasar hukum Syara.
Perubahan besar juga terjadi di bidang ekonomi ketika Bandar Aceh dibuka menjadi pelabuhan internasional. Langkah ini memberi ruang dagang lebih luas bagi komoditas utama Aceh, terutama lada.
Sistem terbuka itu mempermudah hubungan ekonomi. Namun pada akhirnya terjadi dampak lain yang tidak menguntungkan bagi Aceh. Meskipun begitu, langkah tersebut tetap menjadi catatan penting dalam perkembangan ekonomi wilayah itu.
Dalam bidang ilmu pengetahuan dan agama, Aceh mengalami pertumbuhan signifikan. B. Schiere dalam Indonesian Sociological Studies menyebutkan, "Aceh adalah pusat perdagangan Muslim India dan ahli fikirnya berkumpul sehingga Aceh menjadi pusat kegiatan studi Islam."