SketsaNusantara.id - Sejak berabad-abad silam, perairan Nusantara menjadi saksi perjalanan besar bangsa-bangsa dunia.
Laut yang luas dan strategis menjadikannya jalur penting bagi kapal dagang dari India, Tiongkok, Arab, Persia, hingga Eropa.
Semua datang dengan satu tujuan, yakni mencari rempah-rempah, komoditas langka yang hanya tumbuh di bumi kepulauan ini, terutama di Maluku.
Kedatangan bangsa asing membawa arus perdagangan besar-besaran yang menghubungkan Timur dan Barat.
Kapal-kapal para saudagar melintas di Selat Melaka, membawa barang dari negeri asalnya untuk ditukar dengan hasil bumi Nusantara.
Namun, di balik kejayaan pelayaran itu, laut Nusantara juga menjadi makam bisu bagi banyak kapal yang tak pernah kembali ke pelabuhan.
Kapal Dagang dan Penjarah dari Berbagai Bangsa
Bangsa Tionghoa datang membawa keramik dan porselen. Saudagar Arab serta Persia mengangkut kaca dan parfum dari negeri asalnya.
Seiring waktu, bangsa Eropa mulai ikut dalam arus perdagangan ini, terutama sejak abad ke-15 Masehi.
Namun, perjalanan mereka tidak semata berdagang. Kapal-kapal Eropa kemudian juga memuat hasil jarahan dari kerajaan-kerajaan di Nusantara yang mereka taklukkan.
Baca Juga: Legenda Dewa Varuna dan Makara Gajahmina: Pelindung Laut, Pembawa Rezeki bagi Para Nelayan
Dalam buku Warisan Bahari Indonesia terbitan Pustaka Obor tahun 2016, Bambang Budi Utomo menyebutkan salah satu kisah terkenal mengenaitenggelamnya kapal Inggris di perairan Bengkulu yang sarat dengan barang seni dari Jawa.