jelajah

Raja Cilik Yogyakarta yang Dibesarkan Pangeran Diponegoro dan Wafat di Usia Muda

Kamis, 6 November 2025 | 19:00 WIB
Sosok Sri Sultan HB !V. (kratonjogja.id)

SketsaNusantara.id - Sejarah Keraton Yogyakarta menyimpan banyak kisah menarik tentang para rajanya, termasuk masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IV.

Ia naik tahta di usia yang sangat muda dan wafat saat baru menginjak usia 19 tahun. Meski masa pemerintahannya singkat, jejak hidupnya mencerminkan dinamika politik dan sosial di masa transisi antara kekuasaan Inggris dan Belanda di Jawa.

Sri Sultan Hamengku Buwono IV lahir pada 3 April 1804 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Ibnu Jarot.

Baca Juga: 7 Warisan Pangeran Mangkubumi yang Membentuk Yogyakarta hingga Kini

Ia merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hageng. Saat ayahandanya naik tahta pada 21 Juni 1812, GRM Ibnu Jarot ditetapkan sebagai putra mahkota.

Dua tahun kemudian, tepatnya 9 November 1814, ia dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono IV di usia 10 tahun.

Dilansir dari Kratonjogja.id, karena masih sangat muda, pemerintahan Hamengku Buwono IV dijalankan dengan pendampingan wali raja. Salah satu wali yang ditunjuk adalah Pangeran Notokusumo yang bergelar Paku Alam I. Namun dalam praktiknya, kekuasaan sehari-hari justru dijalankan oleh Ratu Ibu dan Patih Danurejo IV, terutama menjelang penyerahan kekuasaan Inggris kepada Belanda pada 1816.

Baca Juga: Sering Terngiang di Bumi Yogyakarta, Sudah Tau Makna Gelar Mangkubumi? Disematkan dalam Diri Sosok Ini

Sultan muda ini baru dinyatakan akil baligh pada tahun 1820, saat usianya 16 tahun, dan mulai memerintah secara mandiri.

Meski singkat, masa ini menjadi salah satu periode penting dalam hubungan politik antara keraton dan kolonial Belanda.

Hubungan antara Pangeran Diponegoro dan adiknya, Sultan Hamengku Buwono IV, sangat erat. Dalam naskah-naskah seperti Kitab Kedung Kebo dan Babad Ngayogyakarta, hubungan mereka digambarkan seperti Kresna dan Arjuna. Pangeran Diponegoro menjadi pembimbing rohani sekaligus guru moral bagi sang adik.

“Ketika sang raja dikhitan pada tanggal 22 Maret 1815, Pangeran Diponegoro sendiri yang menutupi mata adiknya dengan kedua belah tangannya,” demikian tertulis dalam sumber sejarah.

Dari kediamannya di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro sering mengunjungi keraton untuk mendidik Sultan muda.

Ia mengajarkan berbagai nilai budi pekerti melalui kisah dari kitab Fatah Al-Mulk, Tajus Salatin, Serat Menak, hingga Rama Badra. Selain itu, Ratu Ibu turut menunjuk Kyai Ahmad Ngusman, kepala pasukan Suronatan, serta Letnan Abbas, perwira Sepoy, untuk mengajarkan baca tulis Melayu dan membaca Al-Qur’an.

Halaman:

Tags

Terkini