jelajah

7 Benteng di Maluku yang Jadi Saksi Persaingan Portugis, Spanyol, dan Belanda dalam Perburuan Rempah

Kamis, 6 November 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi daftar benteng Portugis warisan kolonialisme di Maluku. (Pexels/0xd1ma)

1. Benteng Kastella, Ternate

Benteng Kastella adalah benteng tertua yang dibangun Portugis di Maluku pada tahun 1521 oleh Antonio de Brito di Desa Kastellan, Kota Ternate.

Baca Juga: Kerajaan di Poros Timur Nusantara ini Pernah Mengguncang Dunia Maritim di Abad ke-17 hingga Menjadi Pusat Penyebaran Islam

Pembangunannya dilanjutkan Garcia Henriquez (1525) dan Gonzalo Priera (1530), hingga akhirnya diselesaikan oleh George de Gastra tahun 1540.

Benteng ini menjadi saksi pembunuhan Sultan Khairun dari Ternate pada 27 Februari 1570. “Sultan dibunuh oleh Antonio Primental atas perintah Gubernur Jenderal Portugis Lopez de Mesquita,” tercatat dalam sumber sejarah.

Pembunuhan itu memicu perlawanan besar yang dipimpin oleh Baabullah, putra Sultan Khairun.

Tahun 1574, Portugis akhirnya diusir dari benteng ini. Setelah itu, kepemilikan benteng berpindah-pindah antara Portugis, Spanyol, dan Belanda hingga akhirnya runtuh.

2. Benteng Santo Pedro e Paulo (Kota Janji)

Benteng yang dibangun Portugis pada tahun 1532 ini dikenal masyarakat Ternate sebagai Benteng Kota Janji.

Di benteng ini pernah terjadi perjanjian antara Portugis dan Sultan Baabullah.

Pada 1610, Spanyol memperkuat benteng ini dengan enam meriam dan menempatkan puluhan prajurit dari Spanyol, Portugis, dan Filipina.

Letaknya di tepi laut yang menghadap Pulau Maitara, sekitar lima kilometer dari Kota Ternate.

3. Benteng Santa Lucia (Kalamata atau Kayu Merah)

Benteng Santa Lucia didirikan atas perintah Gubernur Portugis Antonio Pigafetta pada 1609.

Lokasinya berada di tepi laut, dan oleh warga setempat disebut Benteng Kalamata, diambil dari nama Pangeran Ternate yang gugur di Makassar pada 1676.

Halaman:

Tags

Terkini