Tahun 1521, armada Spanyol yang dipimpin Ferdinand Magellan tiba di Tidore melalui jalur utara dari Filipina.
Saat itu Tidore berada di bawah pemerintahan Raja Almanzor. Sang raja menyambut hangat kedatangan armada Spanyol yang dikomandoi oleh Kapten Del Cano.
Untuk beberapa waktu, mereka menjalin hubungan baik dengan rakyat dan kerajaan setempat.
Namun, setelah kapal mereka penuh dengan muatan rempah, armada itu kembali ke Spanyol. “Rakyat dan Raja Tidore melepasnya dengan berat hati,” tulis sejumlah catatan pelaut Eropa kala itu.
Belanda dan Awal Persaingan di Maluku
Kedatangan bangsa Belanda tak lama kemudian memperkeruh suasana di wilayah rempah ini.
Tahun 1599, armada dagang yang dipimpin Laksamana Warwijk berlabuh di Ambon dan menjalin hubungan dengan wilayah Hitu.
Dua tahun berselang, datang lagi dua armada lain di bawah komando van der Haghen dan van Heemskerck.
Dengan hadirnya Belanda, lengkap sudah tiga kekuatan besar Eropa, Portugis, Spanyol, dan Belanda, yang bersaing memperebutkan rempah Maluku.
Persaingan itu tidak hanya terjadi di Eropa, tetapi juga berpindah ke tanah Nusantara.
Penduduk Maluku Jadi Korban
Pada awalnya, orang-orang Maluku memanfaatkan kedatangan bangsa asing sebagai sekutu untuk mengalahkan pesaing dagang mereka.
Namun situasi segera berubah. Para sekutu Eropa itu kemudian memperbudak penduduk lokal dan mengambil alih kendali perdagangan cengkeh.
Rempah yang dulu menjadi sumber kesejahteraan dan kebanggaan Maluku justru berubah menjadi penyebab penderitaan panjang.