Jejak Cengkeh di Dunia Kuno
Keberadaan cengkeh di dunia internasional ternyata sudah tercatat sejak lama. Seorang penulis Romawi, Plinius Major, dalam karyanya tahun 75 Masehi menyebutkan tumbuhan bernama garyophyllon yang hanya tumbuh di “hutan sakti India”. Diduga kuat, yang dimaksud adalah cengkeh dari Maluku.
Namun, bukti lebih tua justru ditemukan di Situs Terqa, Mesopotamia (Syria). Di lokasi itu, arkeolog menemukan sebuah jambangan berisi cengkeh di dapur rumah sederhana yang berasal dari sekitar 1700 SM.
Penemuan ini menegaskan bahwa cengkeh telah dikenal di dunia ribuan tahun sebelum perdagangan modern dimulai.
Catatan lain menyebutkan bahwa St. Silvester, Uskup Roma pada abad ke-4, menerima persembahan 150 pon cengkeh.
Sementara pada tahun 547 Masehi, saudagar bernama Cosmos Indicopleustis mencatat adanya perdagangan rempah yang dibawa dari Tiongkok dan Sri Lanka.
Catatan Ibnu Battuta dan Para Pelaut Nusantara
Sumber sejarah lain dari dunia Islam juga mencatat tentang rempah Maluku. Penjelajah besar Ibnu Battuta menulis pada tahun 1350 Masehi:
“Cengkeh yang dijual adalah batang pohonnya, buahnya disebut pala, dan bunganya dinamakan fuli.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ibnu Battuta belum mengenal secara jelas perbedaan antara cengkeh dan pala. Meski demikian, catatannya menjadi bukti bahwa rempah dari Maluku telah menyebar luas hingga dunia Arab.
Pertanyaan menarik pun muncul, sejauh apa pelaut Nusantara berlayar membawa rempah-rempah mereka? Beberapa bukti menunjukkan bahwa kapal-kapal besar dari Maluku mampu menempuh perjalanan jauh.
Sebuah lukisan cat air karya Alphonse Pellion tahun 1818 berjudul “Kora-kora from Gebe, North Moluccas” menggambarkan perahu besar dengan 9 hingga 10 pendayung dan layar utama.
Kapal jenis ini digunakan untuk pelayaran jarak jauh, mengangkut cengkeh dan pala ke pelabuhan besar di Asia Tenggara seperti Melaka dan Banten.