SketsaNusantara.id - Di antara deretan kerajaan besar Nusantara, nama Gowa-Tallo menempati posisi penting dalam sejarah Indonesia bagian timur.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, kerajaan ini tumbuh menjadi kekuatan politik dan maritim yang disegani.
Dari sebuah federasi kecil bernama Kasuwiang, Gowa berkembang menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan timur Nusantara.
Kerajaan Gowa, yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Makassar, semula terdiri dari sembilan negeri kecil atau Kasuwiang.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Warisan Bahari Indonesia karya Bambang Budi Utomo, terbitan Pustaka Obor tahun 2016, kesembilan wilayah itu adalah Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agang Jekne, Bisei, Kalling, dan Sero.
Mereka membentuk federasi yang dipimpin oleh seorang tokoh bernama Paccallaya, yang berperan sebagai pemimpin tertinggi dan penengah dalam setiap sengketa antar daerah.
Dalam struktur sosialnya, Paccallaya dihormati layaknya orang tua bagi seluruh Kasuwiang.
Gowa-Tallo Bersatu dan Membangun Pusat Maritim
Sekitar abad ke-16, Gowa bersatu dengan Tallo dan membangun Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus jantung kota Makassar.
Di masa itu, populasi Makassar mencapai sekitar 100 ribu jiwa, jumlah besar untuk ukuran kota pelabuhan pada masanya. Letaknya yang strategis menjadikan Makassar berkembang pesat sebagai pelabuhan internasional yang menghubungkan perdagangan antarwilayah di Asia Tenggara.