SketsaNusantara.id - Wayang di Jawa telah lama menjadi medium bercerita, mengajarkan nilai, dan mempertautkan keyakinan.
Namun, di antara berbagai jenis wayang yang lahir di tanah Jawa, Wayang Wahyu menempati posisi yang unik. Ia bukan sekadar pertunjukan, melainkan pertemuan antara seni tradisional dan ajaran iman Katolik.
Wayang Wahyu menggunakan kisah Alkitab sebagai sumber ceritanya. Cerita yang biasa dibacakan di gereja atau perayaan keagamaan, seperti kelahiran Yesus, penyaliban, hingga kisah para rasul, diubah menjadi lakon yang mengalir dalam bentuk pewayangan.
Dari sisi musik, iringannya tetap gamelan Jawa, sebagaimana halnya Wayang Purwa.
Pertunjukan Wayang Wahyu biasanya digelar pada hari besar keagamaan umat Kristen atau Katolik, seperti Paskah dan Natal.
Pagelarannya bisa berlangsung di gereja, di lembaga pendidikan Katolik, atau di komunitas yang ingin menghadirkan seni tradisi dalam nuansa religius.
Asal-usul Wayang Wahyu
Menurut unggahan akun Instagram @wayangheritage, pertunjukan pertama Wayang Wahyu digelar pada tahun 1960. “The first performance of Wayang Wahyu was held on 1960, by a Catholic missionary, Bruder Timotheus L. Wignyosoebroto,” tulis sumber tersebut.
Bruder Timotheus dikenal sebagai misionaris Katolik yang menggabungkan pesan Injil dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima masyarakat Jawa.
Pada awal kemunculannya, boneka wayang dibuat dari bahan karton. Namun, setelah banjir besar Bengawan Solo pada tahun 1966, bahan itu diganti menjadi kulit kerbau agar lebih tahan lama.
Pergantian material ini menjadi langkah penting dalam menjaga kelangsungan Wayang Wahyu sebagai seni pertunjukan yang bisa diwariskan.