SketsaNusantara.id - Jauh sebelum Gajah Mada bersumpah di hadapan Majapahit, gagasan besar tentang persatuan Nusantara ternyata sudah lebih dulu lahir di Singhasari.
Sosok di balik gagasan itu adalah Maharaja Kertanagara, raja terakhir Singhasari yang berkuasa antara tahun 1254 hingga 1292 Masehi.
Kertanagara bukan hanya seorang penguasa yang ambisius, tetapi juga seorang visioner yang melihat ancaman besar datang dari utara.
Saat Dinasti Mongol di bawah Khubilai Khan mulai memperluas kekuasaan hingga Asia Tenggara, Kertanagara memahami bahwa hanya Nusantara yang bersatu bisa menghadapi gelombang invasi dari kekaisaran terbesar di dunia kala itu.
Kertanagara dan Mimpi Persatuan Nusantara
Dilansir dari buku Warisan Bahari karya Bambang Budi Utomo terbitan Yayasan Obor Indonesia tahun 2016, Singhasari mencapai masa kejayaannya di bawah Kertanagara.
Kerajaan ini berhasil menundukkan pemberontakan Cayaraja, menaklukkan Bali pada 1284, serta memperluas pengaruhnya hingga ke Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan wilayah timur Nusantara sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakertagama.
Baca Juga: Perjalanan Batik, Sejarah dari Simbol Kekuasaan Majapahit hingga Warisan Dunia UNESCO
Namun, lebih dari sekadar ekspansi politik, langkah itu mencerminkan cita-cita besar, yakni menyatukan wilayah-wilayah di kepulauan Nusantara dalam satu lingkar pengaruh. Sebuah visi yang kelak dikenal dengan istilah “Dwipantara”.
Prasasti di belakang Arca Camundi menjadi bukti nyata cita-cita Kertanagara. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa sang raja menahbiskan arca tersebut “pada waktu Sri Maharaja Kertanagara menang di seluruh wilayah dan menundukkan semua pulau yang lain.”
Kalimat itu menggambarkan gagasan awal penyatuan Nusantara, jauh sebelum Sumpah Palapa diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada.
Ancaman Mongol dan Strategi Diplomasi Singhasari