SketsaNusantara.id - Pada abad ke-7, di tepi Sungai Musi, sebuah kerajaan besar menorehkan sejarah yang mengguncang Asia.
Nama itu adalah Sriwijaya, kerajaan maritim yang bukan hanya kuat di laut, tetapi juga berpengaruh hingga ke India.
Bukti-bukti kejayaannya masih terpatri dalam prasasti dan catatan asing yang menyebut dominasi Sriwijaya di jalur perdagangan dunia.
Dikutip dari buku Warisan Bahari Indonesia yang ditulis Bambang Budi Utomo, salah satu sumber utama adalah Prasasti Kedukan Bukit, bertanggal 16 Juni 682 Masehi.
Dalam prasasti itu tertulis: “Pada hari ketujuh paro-terang bulan Jyestha Dapunta Hiyang bertolak dari Minanga sambil membawa dua laksa tentara dengan perbekalan sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu tiga ratus dua belas datang di Mukha dengan sukacita.”
Kalimat tersebut menjadi bukti bahwa Sriwijaya memiliki kekuatan militer laut yang luar biasa.
Sriwijaya dan Penguasaan Jalur Dagang Dunia
Catatan dari sumber Tionghoa dan Arab menguatkan gambaran kejayaan itu. Kedua sumber menyebutkan bahwa Sriwijaya menguasai jalur perdagangan dan pelayaran antara kerajaan-kerajaan barat dan Tiongkok.
Posisi strategis di Selat Melaka membuat Sriwijaya mengendalikan lalu lintas kapal niaga dari Tiongkok, India, Persia, hingga Arab.
Beberapa pelabuhan penting di sekitar selat itu berada di bawah kendali langsung Sriwijaya.
Bahkan, kerajaan ini pernah menerapkan aturan tegas: kapal asing yang berdagang di wilayahnya harus menggunakan kapal milik Sriwijaya. Akibatnya, barang dagangan dari berbagai negeri harus dipindahkan terlebih dahulu ke kapal Sriwijaya sebelum diteruskan ke tujuan.